Tampilkan postingan dengan label Minangkabau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minangkabau. Tampilkan semua postingan

Gamad, kesenian musik Padang yang hampir punah


Gamad adalah kesenian musik khas Padang yang merupakan pengaruh musik Portugis. Hal ini dapat di lihat dari alat-alat musik khas Portugis yang dipakai, seperti biola, akordion, sexophone, terompet, dan juga gendang rampak. Namun lagu pada musik gamad ini sudah khas Padang dengan syair-syair yang sarat akan ratap dan beriba hati, sekalipun dinyanyikan oleh biduan dengan gayanya yang berlenggak-lenggok.

Orang-orang Portugis dahulunya suka berpesta dengan bernyanyi di atas kapal dengan diiringi grup musik, dan ketika itulah orang Minang dan Nias ikut serta. Lalu kemampuan menguasai alat musik dan bernyanyi tersebut mereka bawa ke darat. Tetapi gamad oleh para seniman gamad sendiri telah disesuaikan dengan kondisi lokal, termasuk syair-syarinya yang telah menggunakan bahasa Minang yang menjadikan Gamad memiliki ciri khas tersendiri.

Berdasarkan sejarah, sejarah musik gamad sendiri sebelumnya merupakan suatu musik yang menampung berbagai etnis yang ada di Kota Padang. Awal mulanya, gamad tidak hanya dimainkan oleh orang Minang dan Nias, tetapi juga oleh orang India yang tinggal di Padang. Kemahiran orang India dalam memainkan gendang membuat mereka ikut ambil bagian dalam grup musik gamad. Para pemusik, penyanyi, dan juga para penggemar gamad terdiri dari berbagai etnis. Seperti Minang, Nias, India, dimana mereka juga memiliki latar belakang serta agama yang berbeda. Maka dari itu ada sebagian orang yang berpendapat bahwa musik gamad adalah musik yang penuh dengan nuansa pluralisme.

Yang menjadi permasalah saat ini adalah, musik gamad sudah agak sulit untuk ditemukan. Akankah musik gamad akan menjadi sebuah cerita saja kelak? Karena kalaupun ada, itupun mereka para seniman gamad yang sudah berumur.

READ MORE...

Rumah Budaya dan Kesenian Fadli Zon di Sumbar


Fadli Zon, seorang politikus muda yang ingin merealisasikan tempat kebudayaan baru di Ranah Minang melalui keberadaan rumah budaya tepatnya di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto Tanah Datar, Sumatera Barat. Lokasi rumah Fadli Zon ini terletak di kawasan utama yang menghubungkan Kota Padang dengan Bukittinggi. Keberadaan bangunan tersebut mengandung nilai tinggi akan sejarah, menambah banyak perhatian dan menambah banyak koleksi bangunan bersejarah khususnya di Minangkabau.

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki banyak koleksi bangunan bersejarah. Selain berpusat di Padang Panjang, juga Kabupaten Tanah Datar yang banyak menyimpan benda peninggalan sejarah. “Keberadaan Rumah budaya ini nantinya akan mengorbitkan kebudayaan dan keseniang Minang agar bisa dikenal oleh masyarakat luas, baik nasional maupun internasional”, kata Fadli Zon.

Ia mengatakan, untuk bisa menjadi tempat kebudayaan baru di Sumbar, Rumah Budaya yang berdiri di atas luas tanah 4700M2 tersebut hingga sekarang telah memiliki beberapa koleksi yang mengandung unsur kebudayaan Minang. Selain memamerkan benda-benda ciri khas Minangkabau tempo dulu, di Rumah Budaya ini nantinya akan digelar berbagai kesenian beberapa budaya Minang, seperti saluang, tari, randai, rabab, dan juga lainnya.

Fadli Zon berharap, dengan adanya Rumah Budaya dapat menjadi tempat untuk memamerkan benda-benda budaya serta pementasan kesenian Minang sebagai upaya untuk pelestarian segala kebudayaan Minangkabau. Koleksi yang ada saat ini adalah, keris sembilan luk asal Pagaruyung yang di buat pada abad ke-18, songket lama, setrika pakaian bara, buku-buku bertema Minang, serta sejumlah lukisan dan juga fosil kerbau yang berusia cukup lama.

Di kawasan Rumah Budaya juga terdapat Rumah Puisi Taufik Ismail, Aie Angek Cottage yang berada diantara gunung Tandikek, Singgalang dan Merapi yang sarat akan nuansa Minangkabau.

READ MORE...

Musisi Minang ‘Zalmon’ tutup usia


Innalillahi wa innailaihi roji’un.. hari ini adalah hari berduka bagi pencinta musik minang, karena hari ini (21/05/2011) telah pulang ke pangkuanNya salah seorang penyanyi Minang yang sangat memberikan kontribusi terhadap musik Minang. Kasiak tujuah muaro, ya itu adalah salah satu lagu Minang yang sangat dikenal oleh kalangan penikmat musik Minang.

Zalmon, meninggal dunia dalam usia 56 tahun sekitar pukul 11.30 di RS Ibnu Sina, Kota Padang. Zalmon meninggalkan seorang istri (Nuraida), serta lima orang anak. Penyakit yang diderita oleh Zalmon karena kekurangan cairan, sehingga asupan gizi tak tercukupi untuk tubuh dan membuat musisi legendari Minangkabau ini hanya bisa terbaring lemas.

Beliau dikenal sebagai musisi Minang yang berkarakter dengan suara serak, serta alunan musiknya yang membuat para penikmatnya terbawa oleh irama lagu yang dinyanyikan. Dengan kepergian Zalmon selamanya, dunia musik Minang telah kehilangan seorang Putera terbaik dalam sejarah musik Minangkabau.
READ MORE...

Ikan Bilih Danau Singkarak


Jika di lihat secara kasar, Ikan bilih (Mystacoleucus Padangensis) memang seperti ikan teri yang berukuran besar, namun tahukah anda bahwa sebenarnya ikan bilih yang merupakan ikan endemik Danau Singkarak ini memiliki rasa yang gurih dan renyah jika disantap. Ukuran ikan bilih yang sebesar ibu jari manusia ini memiliki banyak daging bila dibandingkan dengan ikan teri. Namun jika dibagi secara spesies, ikan bilih memiliki dua kelompok. Yakni yang berada di daerah sekitar sungai Amazon (Brazil), serta ikan bilih yang berada di sekitar Danau Maninjau (Sumatera Barat).

Di daerah asal ikan bilih, Danau Singkarak, banyak orang yang menjual ikan ini. Pada umumnya, mereka yang menjual ikan bilih ini sudah di masak, sehingga pembeli dapat langsung mengkonsumsinya, atau menggorengnya kembali untuk menyantapnya. Namun untuk mendapatkan ikan ini, anda tidak hanya dapat membelinya di daerah sekitar Danau Singkarak saja, karena di pasar-pasar tradisional (bahkan modern) di Kota Padang sudah tersedia.

Namun yang sangat disayangkan jika bicara mengenai ikan bilih adalah, bahwa sesungguhnya ikan ini sudah tergolong langka. Tingginya permintaan pasar tidak sesuai dengan perkembangan ikan bilih di habitatnya. Banyak pihak yang mencoba membudidayakan ikan bilih di tempat lain, namun hal tersebut tidak berhasil. Hal tersebutlah yang menjadikan ikan bilih merupakan ikan endemik serta ikon dari Danau Singkarak. Habitatnya yang hidup di Danau Singkarak memberikan suatu tanda tanya besar tentang air serta kandungannya yang tersimpan di Danau Singkarak sehingga bisa menjadikan habitat ikan bilih.

READ MORE...

Mencicipi kue bika ranah Minang


Bagi masyarakat Minangkabau, biasanya hal yang membuat mereka teringat dengan kampung halaman adalah kulinernya. Meskipun ada beberapa jenis makanan yang memang sudah ada di jual di daerah lain, namun cita rasa khas yang dimiliki tidak sama. Salah satu makanan tradisional yang memiliki rasa tiada duanya ini adalah kue bika.

Kue bika di Kota padang memang agak sulit untuk ditemui. Tetapi, untuk menemukan kue bika buatan Minangkabau ini sebenarnya memiliki lokasi yang cukup di kenal. Dalam perjalanan dari Padang ke Bukittinggi, setelah daerah Padang Panjang, anda dapat menemukan tempat jajanan yang khusus menjual kue Bika. Salah satu bika yang terkenal adalah Bika Mariana.

Bika Mariana seakan menjadi icon bagi orang-orang yang hendak bepergian melewati daerah Padang Panjang. Rasanya yang enak & legit membuat Bika si Mariana ini menjadi berbeda dengan bika-bika yang dijual di tempat lain. Apalagi jika anda langsung menyantap kue bika disana, maka dipastikan anda akan memakannya dengan lahap. Karena dengan kondisi kue yang masih hangat serta cuaca Padang Panjang yang dingin membuat perut anda terasa lapar.

READ MORE...

Asal usul Silat Minangkabau


Minangkabau secara resmi sebagai sebuah kerajaan pertama dinyatakan terbentuknya dan berkedudukan di Pariangan, yakni di lereng Tenggara gunung Merapi. Di Pariangan itulah dibentuk dan berkembangnya kepribadian suku Minangkabau. Pada hakikatnya kebudayaan Minangkabau bertumbuhnya di Pariangan, bukan di Pulau Punjung dan bukan pula di daerah sekitar sungai Kampar Kiri dan Kampar kanan.

Dalam hubungan ini diyakini, bahwa para pengawal kerajaan sebagaimana halnya raja itu sendiri, yang kehadirannya sebagai keturunan dari keluarga istana kerajaan Minangkabau di Pulau Punjung / Sungai Dareh. Kedatangan mereka ke Pariangan setelah kerajaan itu mengalami perpecahan, yaitu terjadinya revolusi istana dengan terbunuhnya nenek moyang mereka, bernama Raja Indrawarman tahun 730 M, karena campur tangan politik Cina T`ang yang menganut agama Budha. Raja Indrawarman yang menggantikan ayahanda Sri Maharaja Lokita Warman (718 M) sudah menganut agama Islam. Dan hal itu menyebabkan Cina T`ang merasa dirugikan oleh hubungan Raja Minangkabau dengan Bani Umayyah.

Karena itu keturunan para pengawal kerajaan Minangkabau dari Pariangan tidak lagi secara murni mewarisi silat yang terbawa dari sumber asal semula, akan tetapi merupakan kepandaian pusaka turun temurun. Ilmu silat itu sudah mengalami adaptasi mutlak dengan lingkungan alam Minangkabau. Apalagi sebahagian besar pengaruh ajaran Ninik Datuk Suri Diraja yang mengajarkan silat kepada keturunan para pengawal tersebut mengakibatkan timbulnya perpaduan antara silat-silat pusaka yang mereka terima dari nene moyang masing-masing dengan ilmu silat ciptaan Ninik Datuk Suri Dirajo. Dengan perkataan lain, meskipun setiap pengawal, misalnya “Kucieng Siam” memiliki ilmu silat Siam yang diterima sebagai warisan, setelah kemudian mempelajari ilmu silat Ninik Datuk Suri Diraja. maka akhirnya ilmu silat Kucieng Siam berbentuk paduan atau merupakan hasil pengolahan silat, yang bentuknyapun jadi baru. Begitu pula bagi diri pengawal-pengawal lain, semuanya merupakan hasil ajaran Ninik Datuk Suri Diraja.

Ninik Datuk Suri Diraja telah memformulasi dan menyeragamkan ilmu silat yang berisikan sistem, metode bagi silat Minang, yaitu Langkah Tigo , Langkah Ampek , dan Langkah Sembilan. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu silat yang berbentuk lahiriah saja, melainkan ilmu silat yang bersifat batiniah pun diturunkan kepada murid-murid, agar mutu silat mempunyai bobot yang dikehendaki dan tambahan lagi setiap pengawal akan menjadi seorang yang sakti mendraguna, dan berwibawa.

Dalam Tambo dinyatakan juga, bahwa Ninik Datuk Suridiraja memiliki juga kepandaian batiniyah yang disebut gayueng, atau sering disebut dengan bacaan gayuang.

Berikut adalah jenis-jenis gayueng / gayuang silat Minangkabau :

1. Gayueng Lahir , yaitu suatu ilmu silat untuk dipakai menyerang lawan dengan menggunakan ibu jari kaki dengan tiga macam sasaran :
- Di sekitar leher, yaitu jakun/halkum dan tenggorokan.
- Di sekitar lipatan perut, yaitu hulu hati dan pusar.
- Di sekitar selangkang, yaitu kemaluan Ketiga sasaran empuk itu dinamakan sasaran Sajangka dua jari.

2. Gayueng angin, yakni menyerang lawan dengan menggunakan tenaga batin melalui cara bersalaman, jentikan atau senggolan telunjuk. sasarannya ialah jeroan yang terdiri atas rangkai jantung, rangkai hati, dan rangkai limpa.

Ilmu Gayueng yang dimiliki Ninik Datuk Suri Diraja yang disebut Gayueng dalam Tambo itu ialah gayueng jenis yang kedua, yaitu gayueng angin. Kepandaian silat dengan gayueng angin itu tanpa menggunakan peralatan. Jika penggunaan tenaga batin itu dengan memakai peralatan, maka ada bermacam jenisnya, yaitu :

- Juhueng, yang di Jawa disebut sebagai Teluh, dengan alat semacam paku dan jarum, pisau kecil.
- Parmayo, benda2 pipih dari besi yang mudah dilayangkan.
- Sewai, sejenis boneka yang ditikam berulangkali.
- Tinggam, seperti Sewai juga, tetapi alat tikamnya dibenamkan pada boneka

Kepandaian silat menggunakan tenaga batin yang sudah disebutkan diatas, sampai sekarang masih disimpan oleh kalangan pesilat, terutama pesilat-pesilat tua. Ilmu tersebut disebut sebagai istilah panaruhan atau simpanan. Karena ilmu silat sebagai ilmu beladiri dan seni adalah ciptaan Ninik Datuk Suri Diraja, maka bila dipelajari harus menurut tata cara adat yang berlaku di medan persilatan. tata cara adat yang berlaku itu disebutkan dalam pepatah silat Minangkabau : ”Syarat-syarat yang dipaturun-panaikan manuruik alue jo patuik..” diberikan kepada Sang Guru.

READ MORE...

Keunikan Jam Gadang di Bukittinggi


Jam Gadang adalah sebuah menara jam yang merupakan markah tanah kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita karena usianya yang sudah puluhan tahun serta keunikan Jam Gadang yang mungkin masih belum diketahui oleh banyak orang.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur(Sekretaris Kota). Pada masa penjajahan Belanda, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan, sedangkan pada masa pendudukan Jepang, berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.

Ukuran diameter jam ini adalah 80 cm, dengan denah dasar 13x4 meter sedangkan tingginya 26 meter. Pembangunan Jam Gadang yang konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden ini, akhirnya menjadi markah tanah atau lambang dari kota Bukittinggi. Ada keunikan dari angka-angka Romawi pada Jam Gadang ini. Bila penulisan huruf Romawi biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka delapan adalah VIII, Jam Gadang ini menulis angka empat dengan simbol IIII (umumnya IV).

READ MORE...

Asal Usul Lembah Harau di Payakumbuh.


Legenda ini menceritakan, dahulunya Lembah Harau adalah lautan. Apalagi berdasarkan hasil survey team geologi dari Jerman (Barat) pada tahun 1980, dikatakan bahwa batuan perbukitan yang terdapat di Lembah Harau adalah batuan Breksi dan Konglomerat. Batuan jenis ini umumnya terdapat di dasar laut.

Salah satu air terjun di Lembah Harau Menurut legenda, Raja Hindustan berlayar bersama istri dan anaknya, Putri Sari Banilai. Perjalanan ini dalam rangka selamatan atas pertunangan putrinya dengan seorang pemuda Hindustan bernama Bujang Juaro. Sebelum berangkat, Sari Banilai bersumpah dengan tunangannya, apabila ia ingkar janji maka ia akan berubah menjadi batu dan apabila Bujang Juaro yang ingkar janji, maka ia akan berubah menjadi Ular.

Namun sayangnya, dalam perjalanan kapal tersebut terbawa oleh gelombang dan terdampar pada sebuah selat (tempat tersebut sekarang dinamakan Lembah Harau). Kapal tersebut tersekat oleh akar yang membelintang pada dua buah bukit hingga akhirnya rusak.

Agar tidak karam, kapal itu ditambatkan pada sebuah batu besar yang terdapat di pinggiran bukit (bukit tersebut sekarang dinamakan Bukit Jambu). Batu tempat tambatan kapal itu sekarang dinamakan Batu Tambatan Perahu.

Setelah terdampar, Raja Hindustan bersama dengan keluarganya disambut oleh Raja yang memerintah Harau pada waktu itu. Lama kelamaan, karena hubungan baik yang terjalin, Raja Hindustan ingin menikahkan putrinya dengan pemuda setempat bernama Rambun Paneh. Satu hal lagi, untuk kembali ke negeri Hindustan juga tidak memungkinkan. Ia tidak tahu sumpah yang telah diucapkan Sari Banilai dengan tunangannya, Bujang Juaro. Tidak berapa lama kemudian, Rambun Paneh menikah dengan Sari Banilai.

Waktu terus berjalan, dan dari perkawinan itu lahirlah seorang putra. Suatu hari, sang kakek, si Raja Hindustan, membuatkan mainan untuk cucunya. Sewaktu asyik bermain, mainan tersebut jatuh ke dalam laut. Anak tersebut menangis sejadi-jadinya. Ibunya, Putri Sari Banilai tanpa pikir panjang langsung terjun ke laut untuk mengambilkan mainan tersebut. Sungguh malang, ombak datang menghempaskan dan menjempit tubuhnya pada dua batu besar. Sari Banilai sadar, bahwa ia telah ingkar janji pada tunangannya dahulu, Bujang Juaro. Dalam keadaan pasrah, ia berdoa pada Yang Maha Kuasa, supaya air laut jadi surut. Doanya dikabulkan, tidak berapa lama kemudian air laut menjadi surut. Ia juga berdoa agar peralatan rumah tangganya didekatkan padanya. Dan ia berdoa, seandainya ia membuat kesalahan ia rela dimakan sumpah menjadi batu. Tidak lama berselang, perlahan-lahan tubuh Putri Sari Banilai berubah menjadi batu.

READ MORE...

Ukiran Minangkabau ternyata hampir punah


Sebagian ukiran Minangkabau yang merupakan motif asli dari sejumlah wilayah nagari di Sumatera Barat hampir punah. Seperti yang terjadi di Nagari Kamang Hilir, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam. Wilayah nagari yang dahulu di kenal sebagai sentra ukiran dan industri kecil meubel rakyat itu tidak lagi memproduksi ukiran.

Hanya sejumlah rumah-rumah gadang berusia ratusan tahun yang masih merekam jelas motif-motif ukiran asli dari nagari tersebut. Salah satunya terdapat di Jorong Lima Kampung berupa rumah Padang dengan lima ruang besar dan sejumlah motif ukiran pada sejukur bagian rumah yang meliputi daun jendela, dinding, pembatas atap dan bagian bawah rumah. Motif-motif tersebut berupa aneka bunga, tanaman, dan daun, termasuk beberapa motif berupa sulur. Namun di nagari tersebut sudah tidak ada lagi yang bisa memproduksi ukiran khas itu serta menjelaskan makna filosofi dari beragam motif ukiran yang ada.

Tetua di nagara itu mengatakan, salah seorang tokoh ahli ukir terakhir di nagari itu telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, anak-anaknya tidak ada yang meneruskannya, mereka hanya sekedar membuat meubel saja. Kemudian salah seorang tetua di nagari lainnya yang mencoba menerangkan makna motif ukiran pada salah satu rumah gadang di nagari itu hanya mengatakan bahwa motif ukiran mengambil contoh dari apa yang terdapat di alam

Pertimbangan ekonomis menjadi alasan utama tidak diminatinya seni ukiran di nagari itu karena lamanya waktu pengerjaan tidak seimbang dengan penghasilan yang diperoleh. Banyaknya generasi muda yang merantau juga dapat menjadi salah satu alasan bahwa tidak adanya lagi minat terhadap seni ukir. Kemudian faktor ekonomis lainnya adalah kelangkaan bahan baku membuat beragam motif ukiran lokal di sejumlah nagari punah.


Source : Kompas
READ MORE...

Mengenal tambo Minangkabau


Kata Tambo diambil dari bahasa Sansakerta, dimana tambay yang artinya bamulo (di/mengawali). Tambo dalam masyarakat Minangkabau merupakan warisan yang turun temurun dengan disampaikan secara lisan. Maka dari itu, kata tambo dapat juga dimaksud dengan sejarah, riwayat, atau hikayat. Namun tambo Minangkabau adalah karya sastra yang merekam kisah-kisah legenda yang berkaitan dengan asal usul suku bangsa, negeri, serta tradisi alam Minangkabau yang ditulis menggunakan bahasa Melayu dalam bentuk prosa.
Dalam sejarah tambo sendiri, naskah yang telah ditemukan sebanyak 83 naskah, dimana judulnya mencakup tentang Undang-undang Minangkabau, Tambo adat, Adat istiadat Minangkabau, Kitab kesimpanan adat, serta Undang-undang, seperti Undang-undang Luhak Tiga Laras dan Undang-Undang Adat.

Jika secara garis besar, dibagi dua bagian utama, yaitu :

- Tambo Alam. Yang mengisahkan asal usul nenek moyang serta kerajaan Minangkabau. Dan

- Tambo Adat. Yang mengisahkan adat, sistim pemerintahan, undang-undang tentang pemerintahan di Minangkabau pada masa lalu.

Dalam penyampaian kisah tambo secara umumnya tidak tersistimatis, kemudian terkadang kisahnya berbeda untuk disesuaikan dengan keperluan dan keadaan. Sehingga isinya dapat berubah-ubah menurut kesenangan bagi pendengarnya. Meskipun demikian pada umumnya tambo Minangkabau adalah karangan yang disadur, kemudian oleh si penyadur tidak menyebutkan sumbernya sehingga seolah-olah merupakan hasil karyanya.

READ MORE...

Bukti legenda Malin Kundang di Pantai Air Manis


Pantai Air manis menjadi salah satu lokasi menarik untuk dikunjungi. Pantai yang terletak di kecamatan Padang Selatan ini dapat ditempuh kurang lebih 30 menit dari pusat kota. Pantai Air Manis memiliki keunikan tersendiri, karena disana, anda akan menemukan dua buah pulau terdekat dari pantai. Yaitu Pulau Pisang kecil, dan Pulau Pisang Besar.

Ketika anda sampai di Pantai Air Manis, anda akan menemukan seonggok batuan, yang kononnya bebatuan itu adalah jasad beserta kapal Malin Kundang yang terdampar. Karena berdasarkan legenda, Malin Kundang dan kapalnya berubah menjadi batu disebabkan oleh durhaka kepada orang tuanya.

Di saat air lau sedang surut, anda bisa menyeberangi pantai dengan kaki telanjang untuk menuju ke Pulau Pisang Kecil. Pulau yang tidak begitu luas tersebut cukup menarik untuk dijadikan tempat wisata, baik itu istirahat, atau memancing. Namun satu hal yang perlu anda ketahui ketika anda sudah berada disana, anda jangan terlalu lama disana! Karena jika air lau sudah kembali pasang, anda akan kesulitan untuk kembali lagi ke Pantai Air Manis.

Sedangkan untuk menempuh Pulau Pisang Besar, anda harus menempuhnya dengan kapal boat. Kurang lebih 30 menit perjalanan anda sudah bisa melihat keindahan Pulau Pisang Besar yang pulaunya terlihat dari pinggir Pantai Air Manis. Untuk mendapatkan boat, anda bisa bernegosiasi dengan penduduk setempat agar mereka bisa mengantar anda ke tujuan.

So, jika anda berkunjung ke Kota Padang, tidak ada salahnya anda menyempatkan diri untuk mengunjungi Pantai Air Manis untuk melihat bukti tentang legenda Malin Kundang.

READ MORE...

Kesenian Lukah Gilo


Setiap kelompok masyarakat memiliki peran serta makna penting dalam kehidupan masyarakat dimana mereka tinggal. Seperti contohnya salah satu aktivitas yang sarat dengan unsur magis pada masyarakat Minangkabau, seperti Sinjundai (membuat seseorang bertingkah laku di luar kontrol / tidak terkendali), menari di atas pecahan kaca, dll.

Namun satu hal yang menarik adalah Lukah Gilo. Lukah Gilo adalah salah satu jenis kesenian yang menggunakan media lukah (sejenis bubu berukuran besar untuk menangkap ikan), dimana lukah tersebut akan bergerak dengan sendiri sehingga terasa sulit untuk dikendalikan meskipun telah dipegang oleh banyak orang. Secara dasarnya, Lukah Gilo ini identik dengan agama yang diperkenalkan oleh Adityawarman yang secara ritual yang secara keseluruhan dapat dikatakan sebagai upacara persekutuan dengan jin.

Meskipun masyarakat umumnya di Minangkabau adalah beragama Islam, namun bermacam budaya banyak yang mengandung unsur magis. Begitupun seperti kesenian Lukah Gilo ini, ini adalah salah satu fenomena yang ada dalam suatu kelompok yang sedang mengalami konflik internal sebagai akibat dari perpaduan antara agama dengan kebudayaan. Lukah Gilo yang sarat dengan magis ini masih ada hingga sekarang, meskipun frekuensinya tidak seperti jaman dahulu. Kesenian ini masih berkembang di Nagari Padang Magek, Lukak Tanah Datar, Desa Padang Magek Utara Tanah Datar, Sumatera Barat.

Keunikan dalam Kesenian Lukah Gilo diantaranya :

- Atraksi dalam kesenian Lukah Gilo ini menggunakan media lukah (alat untuk menangkap ikan / belut) yang terbuat dari bambu.

- Dijadikan sebagai penguji keterampilan serta ketangkasan anak muda dalam mengendalikan Lukah yang telah dikuasai oleh magic di bawah pawang / ahlinya.

- Lukah tersebut dapat bergerak sendiri, menari-nari, atau melompat-lompat. Dimana para penari yang terlibat dalam kesenian ini berusaha untuk menangkap dan berusaha untuk memegangi atau mengendalikan lukah ini.

- Sedangkan untuk ukuran, lukah ini memiliki ukuran yang lebih besar dari ukuran lukah (bubu) yang sebenarnya.

READ MORE...